Beranda > Kuliner, Uncategorized > Hmm… Wangi Semerbak Satai Kocok Afrika

Hmm… Wangi Semerbak Satai Kocok Afrika

Satai kok dikocok? Ya, potongan daging domba yang berwarna kehitaman ini dikocok dengan bumbu. Meskipun tanpa tusukan, satai yang dimasak dengan bumbu benua Afrika ini memang dahsyat. Rempahnya menyusup sampai ke serat daging, teksturnya empuk dan saat dimakan dengan irisan bawang Bombay. Kres..kres.. makin lekat rasa lezatnya! Udara dingin dan hujan gerimis membuat kemacetan berlarut di sepanjang jalan Casablanca. Dari kaca jendela mobil lambaian banner Satai Domba Afrika berwarna kuning langsung memikat mata. Ya, perut lapar dan udara dingin tentu paling pas dihangatkan dengan satai daging domba. Kesempatan inipun tak saya sia-siakan. Pertama kali saya menyantap satai domba di kawasan Tanah Abang, di warung Haji Ismail. Kedua kali saya menjajal satai domba di Jl. Gajah Mada. Cita rasa eksotik racikan bumbu satai domba ini benar-benar tak terlupakan. Karena lokasinya yang jauh dan selalu macet maka saya tak bisa sering mengulangi kunjungan ke rumah makan itu. Rumah makan ini tampilannya sangat sederhana. Di bagian depan dipakai untuk meracik makanan dan membakar daging domba. Di bagian dalam, di sudut kiri dipakai sebagai tempat meracik minuman dan menggoreng pisang. Tulisan ‘Satai Kocok Afrika’ dan ‘Satai Domba Afrika’ berwarna mencolok dipasang di sisi-sisi dinding. Langsung saja saya memesan seporsi satai domba, sup domba dan pisang goreng mayones. Meskipun menyandang nama ‘satai’ tetapi satai yang satu ini tidak memakai tusuk satai bambu. Ternyata dari info sang pelayan, rumah makan ini merupakan ‘cabang’ dari satai domba di Jl.Gajah Mada yang dikelola oleh orang yang berbeda. Lamat-lamat tercium bau harum daging domba yang sedang di bakar di atas api. Hmmm.. semerbak wangi tanpa kepulan asap yang menyesakkan dada. Sesekali diselingin suara ‘keluthuk-keluthuk’ panci aluminium digoncang-goncang dan diputar oleh tukang masak. Potongan kecil daging domba panggang dikocok dengan bumbu hingga meresap sebelum disajikan. Memang mengolah daging domba dengan cara Mali, Afrika Barat agak lama. Tahap awal daging domba dipotong agak besar kemudian dipanggang dengan bara api sedang, tidak boleh terlalu besar supaya tidak gosong hingga daging berubah warna dan hampir kering. Daging ini lalu ditaruh dalam panci dan dipanaskan agar lemaknya meleleh atau larut. Setelah ini barulah daging dipotong lebih kecil dan dibakar lagi hingga benar-benar tak berlemak, kesat atau hampir kering. Biasanya jika akan disajikan barulah daging bakar itu dikocok dengan bumbu. Satai tanpa tusukan ini lalu ditaburi irisan tipis bawang Bombay yang ditumis setengah layu. Agaknya penjual sudah menyiapkan irisan daging yang sudah empuk sehingga tinggal mengocok dengan bumbu. Karena itu dalam hitungan menit, satai kocok sudah tersaji di meja. Disajikan di atas piring segi empat, irisan daging domba berukuran sekitar 2 cm itu ditimbun irisan bawang Bombay tumis. Terus terang tak menarik selera warnanya kehitaman nyaris seperti hangus. Namun, saat potongan daging domba itu masuk ke dalam mulut, kunyahan pertama langsung terasa empuk, lembut dengan tonjokan rempah; bawang putih, merica, dan ketumbar yang meresap sempurna. Apalagi saat dikunyah bersama bawang Bombay yang renyah, kres..kres..makin lezat melekat di lidah! Yang lebih dahsyat, tak ada lagi aroma ‘prengus’ atau BB domba yang tajam sehingga satai ini lebih cepat masuk lagi ke mulut. Teman makan sate kocok ini adalah pisang tanduk goreng. Di rumah makan ini disajikan dengan kucuran tipis mayones. Sebagai pengganti nasi, pisang tanduk (yang sayangnya agak sepet) ini saya makan bergantian dengan suapan satai domba. Agak aneh tetapi lama kelamaan terasa enak juga. Ada semburat manis dan aroma legit pisang disela-sela rasa gurih kuat daging domba. Sengaja saya tak menambahkan mayones atau saus cabai botolan agar tak merusak rasa alaminya. Sup domba yang panas mengepul disajikan dalam mangkuk sedang. Ada 3 potongan tulang domba berdaging tipis di sela-sela potongan wortel, tomat dan taburan irisan kucai yang menebarkan aroma harum. Potongan gumpalan lemak domba yang putih pun mengapung di permukaan sup bening ini. Rasanya gurih-gurih dengan uap aroma cengkih yang kuat, sedikit jejak merica dan bawang. Sup ini sangat menyegarkan, cocok untuk menemani santapan satai dan pisang goreng! O,ya kalau Anda tergolong penggemar jeroan, bisa memesan satai jeroan domba (hati, usus, limpa). Juga tersedia gulai domba yang berkuah pekat dan kekuningan Untuk menghangatkan tubuh dengan makanan khas Afrika ini harga yang harus saya bayar seimbang dengan kenikmatannya. Seporsi satai kocok Afrika Rp. 35.000,00, sup domba Rp. 20.000,00 dan seporsi pisang goreng mayones Rp. 10.000,00. Nah, kalau sedang terjebak macet di kawasan ini, bersiaplah menghangatkan tubuh dengan satai unik ini!

Sate Domba Africa
Jl. Prof.Dr.Satrio (Casablanca)
Jakarta Selatan (detik.com)

Kategori:Kuliner, Uncategorized Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: