Beranda > Renungan > Tetesan Embun Di Pagi Hari

Tetesan Embun Di Pagi Hari

Setetes Air Embun

Embun pagi yang bertengger di ujung daun memang sudah sering kita lihat.  Namun jarang kita perhatikan.  Bangun tidur terus shalat subuh, berolahraga sebentar, mandi, makan, lalu langsung pergi ke tempat kerja.  Rutinitas dan kesibukan seperti itu telah menjadikan kita bagai robot-robot kota yang telah diprogram pemiliknya.  Apalagi bagi mereka yang terikat oleh jadwal jemputan, kereta api, bis maupun tumpangan kawan.  Waktu pagi mereka terasa sangat singkat.  Bahkan sarapan pun sering dilakukan di jalan atau setiba di kantor.

Setetes embun pagi memang selalu luput dari perhatian.  Padahal embun pagi adalah bagian dari tanda-tanda Ilahi.  Sebuah tanda di antara tanda-tanda berakhirnya masa malam yang gelap gulita, lalu digantikan oleh masa siang yang terang benderang.  Tanda yang lain tentunya sudah jelas seperti terbitnya matahari, kokok ayam, serta menghilangnya suara-suara binatang malam.  Tapi datangnya embun menjadi unik.  Tidak seperti yang lainnya, embun pagi bisa lebih lama kita pandang dan perhatikan.

Embun menjadi pertanda dimulainya hari dengan kejernihan. Sisihkan waktu sebentar untuk melihat dan merenungkan.  Renungkan apa saja, tapi arahnya satu.  Kejernihan. Apa yang akan kita lakukan hari ini harus berdasarkan pikiran yang jernih dan hati yang bersih.  Sempatkanlah merasakan dinginnya air embun.  Rasakan hembusan angin pagi.  Hiruplah udara segar dalam-dalam.  Bedakan dengan hirupan udara tatkala kita berolahraga.  Sebab, kali ini kita menghirup dan merasakannya dengan kejernihan pikiran dan hati.  Sampai terucap, Alhamdulillah, betapa besar nikmat yang Engkau berikan kepada kami, ya Allah.”  Lalu, mulailah aktivitas keseharian dengan membaca basmalah.

Hidup, bagi seseorang selalu menyisakan sebuah pertanyaan besar, apa sih yang kita cari?  Bahasa sederhananya, apakah tujuan kita hidup?  Kita hidup memang punya tujuan.  Dan, kalau boleh digeneralisir tujuannya cuma satu, yaitu bahagia.  Hidup bahagia.  Rasanya tidak ada tujuan lain selama manusia masih menghembuskan nafasnya, selain dari menginginkan kebahagiaan.  Ada berbagai cara atau sarana dalam mencapai kebahagiaan.  Atau dengan kata lain, bagaimana yang disebut bahagia.  Sampai wilayah ini, masing-masing orang tidak sama.

Ada yang bahagia lewat harta.  Asal duitnya banyak, ia bahagia.  Ada uang di kantong, legalah sudah.  Ada yang berbahagia karena wanita.  Kalau ia dikelilingi wanita cantik, dunia serasa surga.  Sudah tidak ada lagi keinginannya.  Itulah puncak kebahagiaannya.  Ada pula yang menganggap jabatan sebagai sarana mencapai kebahagiaan.  Misalnya, kalau ia bisa menduduki posisi tertentu, puaslah ia.  Biar uangnya sedikit, istriknya jelek plus cerewet, asal berpangkat ia bahagia.  Di saat-saat penghormatan yang ia terima atas posisinya tersebut kebahagiaan akan selalu muncul.

Kebahagiaan seorang muslim harus berbeda.  Seorang muslim sejati akan merasa bahagia bila Allah ridha terhadap dirinya.  Jadi mardhatillah adalah sesuatu yang ia cari-cari, sebab di situlah letak kebahagiaannya.  Kalau ia melakukan sesuatu yang menjadikan Allah ridha, apapun bentuk dan hasilnya, maka ia akan merasa bahagia.  Bila sebaliknya, kelakuan maupun perbuatannya menimbulkan kemurkaan Allah maka langsung dirinya kehilangan kebahagiaan.  Dirinya dirundung malang dan kesedihan.  Dengan tobat dan melakukan amal kebaikan sebagai pengganti maka kebahagiaannya akan timbul kembali.  Itulah tujuan dari prinsip seorang muslim.

Mardhatillah atau keridhaan Allah adalah hasil dari suatu pekerjaan baik atau tidak terlarang yang didasarkan pada niat semata-mata beribadah.  Dalam terminologi Islam, ibadah tidak saja mencakup aspek ritual (ibadah mahdhah) seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya, tapi juga ibadah umum seperti bekerja, berbuat baik pada orang tua, melayani kepentingan umum dan lainnya.  Nilai pahalanya tidak berbeda.  Asal pekerjaan tersebut niatnya lillahi ta’ala, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya.  Pemberian tersebut adalah bentuk keridhaan-Nya.

Bekerja itu sendiri dalam ajaran Islam merupakan suatu kewajiban.  Rasulullah saw. menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Baihaqi mengatakan, ”Mencari pekerjaan yang halal merupakan kewajiban setelah kewajiban beribadah (ritual).”  Kewajiban seorang muslim pertama kepada Allah, yaitu melakukan shalat dan ibadah ritual lainnya.  Kemudian kewajiban terhadap diri sendiri, yaitu bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kehidupannya, sehingga tidak membebani orang lain.  Apabila telah berkeluarga maka tanggung jawabnya bertambah, yaitu menafkahi anak istri.  Baginya bila mempunyai nafkah lebih, wajib pula membantu meringankan beban sanak famili dan kerabatnya.  Jika sudah terpenuhi, wajib baginya membantu masyarakat yang membutuhkannya.

Demikianlah semua aktivitas bekerja seorang muslim menjadi kewajiban yang harus ia penuhi, baik kepada dirinya, keluarga dan kerabatnya, serta masyarakatnya.  Kewajiban artinya jika dilaksanakan mendapat pahala, jika ditinggalkan mendapat siksa.  Jadi bekerja di kantor atau di tempat kerja lainnya pasti mendapat pahala.  Sekali lagi, jika niatnya memenuhi kewajiban yang Allah bebankan kepadanya.  Niatnya lillahi ta’ala.

Mengamati dan merenungkan tetesan embun di pagi hari, meskipun sebentar, diharapkan dapat membawa suasana kerja kita sepanjang hari menuju kepada keridhaan Allah.  Dengan perantara embun pagi, kita merenungkan bahwa penciptaan segala macam dunia beserta isinya, pergantian siang dan malam sebagai tanda-tanda bukti kekuasaan Allah.  Renungan itu akan menjadi ruh perjalanan hidup hari itu yang berfungsi sebagai rel menuju keridhaan tadi.  Renungan harian itulah yang akan menjadikan kita sebagai seorang muslim yang konsisten.  Yang menyatakan bahwa hanya Allah Tuhan dan tujuan kita.  Itulah yang dimaksud firman Allah dalam Qur’an surat Al Ahqaaf: 13, ”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ’Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka tetap istiqomah (konsisten) maka tidak akan menimpa rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka sedih.”

Dengan kata lain, merekalah orang yang berbahagia.  Itulah yang dicari seorang muslim dalam hidup.

Mengamati embun pagi juga mendorong kita untuk berpagi-pagi dalam bekerja.  Tidak bangun siang-siang atau tidak tidur lagi setelah shalat subuh.  Nabi saw. sendiri memberikan motivasi untuk berpagi-pagi dalam mencari nafkah yang halal.  Imam Thabrani meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Nabi saw. bersabda, ”Setelah melaksanakan shalat subuh, janganlah kalian kembali tidur.  Gunakanlah untuk mencari rezeki.”

Dalam hadits yang lain Nabi saw. juga bersabda, “Berpagi-pagilah dalam mencari rezeki dan kebutuhan hidup.  Karena dalam kepergian di pagi hari untuk bekerja itu terdapat keberkahan dan kemenangan.” Cuma mereka yang pagi hari bangun, berolah raga sebentar kemudian bersiap pergi ke kantor yang akan mendapat kemenangan.  Menang dalam bersaing dengan kompetitornya.  Masih ditambah keberkahan pula.  Demikianlah salah satu motivasi Islam dalam meningkatkan produktivitas umatnya.

Insya Allah, hidup kita di hari itu selanjutnya akan berkah.  Mulai dari perjalanan menuju kantor, mengerjakan tugas masing-masing, apakah itu menjadi pimpinan, manajer, staf sampai office boy.  Mulai dari menulis, menandatangani, mengetik, berkomunikasi, berpikir dan bekerja, keberkahan akan selalu ditemukan.  Persoalan yang datang akan dihadapi dengan pikiran dan hati yang jernih.  Setiap cobaan akan menjadikannya bertambah iman dan meningkat kualitasnya.  Sabar menjadi senjatanya.  Demikian pula keberhasilan tidak akan menjadikannya sombong dan takabur.  Syukur tak pernah lepas darinya, Bersabar dalam cobaan dan bersyukur dalam kejayaan.”

Kalau aktivitas seorang muslim seperti itu pasti akan terucap, betapa indah hidup ini.  Betapa indah embun pagi.  Betapa indah nikmat Allah ini.  Maka, berjanjilah untuk melakukan hal itu serta lakukanlah apa yang sudah kita janjikan di hari itu.

Cuplikan hadist berikut :

Mencari pekerjaan yang halal merupakan kewajiban setelah kewajiban beribadah (ritual).”   Diriwayatkan oleh  :

a. Imam Thabrani dan Bukhari

b. Imam Thabrani dan Baihaqi

c. Imam Tirmidzi dan Baihaqi

Kategori:Renungan Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: